Pertukaran
dan perdagangan mula-mula terjadi sebagai akibat langsung dari sifat alam,
yaitu perbedaan dalam macam tanah, iklim, pengairan dan kekayaan/sumber alam
lainnya. Daerah-daerah dataran rendah menghasilkan padi, jagung dan
kacang-kacangan, sedangkan daerah-daerah dataran tinggi menghasilkan
sayur-sayuran, teh, buah-buahan dan sebagainya. Dengan demikian spesialisasi
perseorangan kemudian menjurus ke spesialisasi daerah dan di negara kita
terjadi spesialisasi di pulau-pulau. Jawa menjadi penghasil padi dan gula yang
utama, Sumatera penghasil karet, kelapa sawit dan lada, sedangkan Kalimantan penghasil kayu dan hasil-hasil hutan.
Spesialisasi alamiah ini kemudian diperkuat oleh peranan manusia yang berupa
ketrampilan dan kecakapan, usaha pemupukan modal dan upaya-upaya pembangunan
lainnya.
Perdagangan
merupakan akibat logis dari adanya spesialisasi antardaerah yang merupakan
faktor ekonomi yang sangat penting. Tetapi belakangan ini selain faktor ekonomi,
perdagangan dipakai pula untuk mencapai tujuan-tujuan sosial. Sebelum bangsa
Belanda datang di Indonesia
maka perdagangan antardaerah di Indonesia
sudah maju. Kapal-kapal berlayar dengan membawa berbagai macam barang antara
pulau yang satu dengan pulau lain, bahkan kemudian di luar negeri, ke Tiongkok,
Madagaskar dan lain-lain.